Indonesia Memilih




Indonesia Memilih

Selamat siang, di hari jum’at ini saya ingin sedikit berbagi argumentasi mengenai Indonesia memilih. Tulisan ini sifat nya subjektif, jika ingin membantah/mengkritik tulisan ini, silahkan bantah/kritik dikolam komentar yang tersedia. Saya berdoa bagi yang membaca tulisan ini agar selalu diberkahi rezeqi nya, dipermudah segala urusan nya, dan diqobulkan segala hajat nya. Aamiin. Allahuma Sholli’ala Sayyidina Muhammad Wa’ala Ali  Sayyidina Muhammad.
Oke, kita Mulai  ke topic pembahasan.

Indonesia merupakan negara demokrasi terbesar nomer 3 di dunia dan  didalam kehidupan berdemokrasi semua masyarakat memiliki hak dalam berpendapat dan hak dalam memilih. inti dari demokrasi ialah “Primus Inter Pares” primus itu prima “utama” dan pares itu “sama” jadi primus inter pares adalah “ yang utama diantara yang sama” seseorang dipilih menjadi seorang pemimpin untuk mewakili suara Rakyat. Tidak ada alasan kuat bagi seorang pemimpin untuk menolak keinginan rakyat. Karena seorang pemimpin, khusus nya pemimpin publik dituntut untuk mendistribusikan keadilan demi terwujudnya kesejahteraan.

Di tahun 2019 ini Indonesia dibenturkan oleh 2 pesta yang besar “Pileg dan Pilpres” 2 pesta yang membuat publik dilema dan cemas dalam menentukan sikap nya. kecemasan publik bukan tanpa sebab, karena publik dihadapkan oleh pilihan yang dapat menentukan masa depan diri nya dan masa depan negara nya.
Sejati nya politik merupakan usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik aristoteles) memilih pemimpin bukanlah seperti memilih kucing didalam karung. Tentu seorang calon pemimpin harus, wajib. Menelanjangi diri dihadapan publik, agar publik dapat mengenali calon pemimpin nya.

Karena memilih itu soal kepercayaan, seorang calon pemimpin wajib ber-orasi dihadapan publik untuk membentuk kepercayaan publik. Dan publik pun berhak mengkritisi pikiran-pikiran calon pemimpin nya. harus ada dialektika antara calon pemimpin dengan rakyat yang akan dipimpin nya. karena hanya dengan dialektikalah publik dapat mengenali, memahami pikiran calon pemimpin nya.

Pesan saya “penulis” pilihlah pemimpin yang ide nya dibutuhkan dimasa kini dan dimasa yang akan datang. Pilihlah pemimpin yang visioner. Yang mampu membaca keadaan dihari ini dan keadaan dihari yang akan datang. Buang mental miskin kita dengan menolak money politics. Karena demokrasi selalu memberi kesempatan pada si dungu yang ingin menjadi pejabat publik.

ahmad dzakwan alfaini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menikah Tidak Se-Nikmat Orgasme