Menikah Tidak Se-Nikmat Orgasme


Siapa yang tidak bahagia dengan pernikahan ? Saya rasa kita semua sepakat bahwa menikah adalah momen sakral yang membahagiakan.
Namun pada konteks pernikahan di era digitalisasi seperti ini, tujuan masyarakat untuk menikah seperti-nya sudah mulai berubah, menikah hanya karena ingin hidup bersama pasangan, bisa pelukan,pulang se-rumah, dan mau ngapain pun rasanya bebas,hal ini tentu bukan tanpa sebab,banyak-nya kisah romantisme suami dan istri yang ter-upload di media sosial menjadi penyebab halusinasi masyrakat di era digitalisasi ini, dengan persepsi "enak ya punya suami,enak ya punya istri,apapun bebas dilakuin,dan kemana-mana selalu bersama."
Dalam persepsi seperti ini se-akan menikah hanya mendatang-kan kesenangan saja, menikah bisa membuat suami dan istri bisa selalu bersama seolah kematian hanyalah sekedar isu.
Hal ini yang membuat kita lupa dan tidak sadar bahwa menikah tidak lah senikmat itu, menikah tidak lah senikmat orgasme.
Mungkin kita membayangkan dengan menikah kita akan memiliki anak yang lucu dan menggemaskan se-akan kita juga lupa bahwa anak keturunan itu rezeqi dan bukanlah sebuah kepastian, bukankah dalam kehidupan ini tidak ada yang pasti ? Itu juga perlu kita renungkan.
Oke,sekarang katakanlah menikah pasti punya anak, pertanyaan-nya bekal apa yang sudah kita siapkan untuk mendidik anak kita ? Uang hanya bisa membesarkan anak dan tidak bisa membeli cinta dan kasih sayang untuk anak, uang hanya bisa me-nyekolahkan anak dan tidak bisa membuat anak merasakan pendidikan yang penuh dengan kasih dan sayang dari orang tua-nya.
Sudah se-sabar apa kita sehingga pantas untuk menikah dan menjadi orang tua ? Bukankah menikah dan menjadi orang tua perlu kesabaran yang tiada tepi ? Dalam konteks permasalahan ini sudah sebaik-nya kita memantaskan diri kita untuk menjadi manusia yang lebih baik sehingga problem apapun yang kita hadapi, kita pun siap untuk menghadapi.
Tanya pada diri sendiri sudah seberapa siap kita menikah ? Atau apa yang sudah kita siapkan untuk menuju pernikahan ? Siapkah kita jika kelak Allah percayai kita menjadi orang tua ? Sudah seberapa sabarkah kita dalam menghadapi ujian hidup ini sehingga kita pantas untuk menuju kehidupan yang lebih besar dengan segala permasalahan yang lebih menantang.

Pernikahan mungkin bukti dari cinta, namun perlu diingat bahwa bukti sesungguh-nya dari cinta adalah komitmen untuk saling mencintai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indonesia Memilih