Menjadi Kreator Dalam Rumah Tangga

 

Membangun rumah tangga tentu bukanlah sebuah perkara yang mudah, struktur kepemimpinan tertinggi dalam rumah tangga dinisbatkan kepada seorang pria, dimana seorang pria nantinya akan menjadi suami sekaligus ayah. Lalu ada seoang wanita yang nanti nya akan menjadi seorang istri sekaligus ibu. Dan diantara kedua nya akan lahirlah seorang anak dimana anak akan mewariskan sebagian dari fisik dan jiwa keduanya. Tantangan menjalani rumah tangga tentu tidak selalu mudah, karena menyatukan kedua insan berarti menggabungkan sebuah permasalahan. Satu individu saja dalam hidup nya pasti memiliki sebuah masalah, apalagi 2 ? 
dan itu pun belum termasuk masalah yang akan anak hadapi kedepannya, Bukankah orang tua juga turut terlibat dalam masalah yang dihadapi anak-anaknya ?
Setidaknya alasan tersebut menjadi dasar dari argumen penulis bahwa berumah tangga sama dengan menggabungkan sebuah permasalahan. 
Lantas, apakah menikah hanya akan mendatangkan masalah ? dan siapa yang harusnya berperan aktif dalam urusan berumah tangga ? 
Pada umumnya dalam kehidupan berumah tangga kita meng-analogikan ibu sebagai jantungnya, kenapa demikian ? karena gairahnya selalu datang dari kehidupan seorang ibu. Lalu jika ibu kita analogikan sebagai jantung dalam rumah tangga, bagaimana dengan ayah ?. mungkin pertanyaan itu menjadi persepsi tersendiri bagi kita,kendati demikian penulis memiliki sudut pandang tersendiri, jika ibu adalah jantung maka ayah adalah otaknya.
Kenapa seorang ayah dianalogikan sebagai otak dalam rumah tangga ? karena seorang ayah adalah pemimpin dan pemimpin harus memiliki pengetahuan yang cukup, tidak ada pemimpin yang tidak berpengetahuan, minimal seorang ayah harus mengetahui perkembangan hidup kedepan, mengetahui cara mendidik seorang anak, serta mampu membedakan cara mendidik anak laki-laki dan perempuan, pun demikian seorang ayah juga harus mengetahui tata cara menjaga jantung, karena ketika jantung itu tidak berdetak, rumah tangga pun berpotensi untuk retak.
FYI: ingat Pengetahuan bukan hanya gelar pendidikan.
Jantung dan otak memiliki hubungan yang secara implisit tidak kita sadari, rangsangan yang diterima otak akan mempengaruhi detak jantung didalam tubuh manusia. Pun demikian rangsangan yang diterima oleh pria sebagai suami, akan mempengaruhi perilaku wanita sebagai istri. Hal yang demikian sering kali tidak disadari (bagi pria) bahwa wanita adalah makhluk yang sangat sensitif dan sensitifnya seorang wanita menjadikan ia sebagai makhluk yang penyayang.
Sebagai contoh: seorang wanita (Istri) merupakan madrasah pertama bagi seorang anak, namun demikian seorang ayah adalah kepala sekolah yang mengatur segala aspek kehidupan madrasah dalam rumah tangga nya. Ketika seorang istri mendidik anak dengan fitrah nya sebagai makhluk yang sensitif, maka jangan sekali-kali suami membuat perasaan istri hancur, karena itu sangat mempengaruhi performa nya dalam mendidik, ketika istri dalam perasaan yang tidak baik, emosi yang tidak stabil, maka bisa saja anak menjadi insecure terhadap ibu nya. Di sinilah peran suami diuji sebagai kreator dalam membangun harmonisasi rumah tangga.
Dalam hal ini sayangnya masyarakat kita masih menggunakan konsep ayah tradisional, dimana ayah hanya memiliki tugas untuk melindungi, dan memenuhi semua kebutuhan anggota keluarga nya. Ayah tradisional tidak turut serta dalam mendidik anak, bahkan secara fisik dan emosional ayah tradisional kerap kali absen 
( tidak hadir ), kerap kali Ia menyerahkan pendidikan anak hanya kepada ibu (istri) tanpa terlibat sekalipun dalam mendidik si buah hati.
Jika kita bandingkan dengan konsep Al-Qur’an dalam mendidik anak dan membangun rumah tangga, Allah SWT sudah meng-kisahkan bagaimana Lukman mendidik anak nya, mengajarkan filsafat kehidupan juga menanamkan pengetahuan tentang ketuhanan ( Tauhid ) dalam diri sang anak, dalam hal ini Qur’an seperti menyampaikan sebuah pesan kepada para ayah bahwa tugas seorang ayah bukan hanya mencari nafkah, ayah harus terlibat dalam mendidik, dan harus dekat secara fisik dan emosional. 
FYI: buka surat ke-31 (Lukman) ayat 12-19
Jika mendidik hanya diserahkan kepada salah satu dari kedua 2 peran, anak akan tumbuh dengan keadaan jiwa yang tidak seimbang. Setidak nya peran ayah dalam mendidik anak dapat berpengaruh dalam kesuksesan anak kedepan, menjadikan anak lebih disiplin dalam menjalani aktifitas hidup nya, menjadikan anak lebih berani dalam mengambil sebuah resiko, dan tentu masih banyak lagi manfaat yang anak dapatkan dari peran seorang ayah.
FYI: Father Involvement Research Alliance, Institusi yang menggalakan keterlibatan ayah saat membesarkan anak menemukan fakta bahwa anak perempuan yang dekat dengan ayahnya memiliki kepercayaan diri yang tinggi, sementara anak laki-laki menjadi lebih terarah.
(sumber:Parenting.aromi.co.id)

Peran ayah sebagai kepala rumah tangga juga sangat mempengaruhi keutuhan dalam rumah tangga itu sendiri, dalam sepak bola mungkin ayah dapat kita analogikan sebagai midfielder yaitu pengatur irama permainan dalam suatu club. Jika kita kembalikan pada sudut pandang Al-Qur’an Allah SWT meng-kisahkan keluarga Imran dalam Q.S ke-3 ayat 33-35, bagaimana keberhasilan imran dalam mendidik keluarga dan juga anak-anak nya, imran memiliki anak yang bernama Asy-ya dimana Asy-ya menjadi istri dari Nabi Zakariya’alaihissalam. Dan merupakan ibu dari nabi yahya.dan anak kedua dari Imran adalah maryam, dimana Maryam merupakan ibu dari Nabi Isa a.s. kesempurnaan Maryam binti Imran ini juga disebutkan dalam H.R Bukhari nomor Hadist 5418 dan Muslim 2431 
Keberhasilan imran dalam membangun rumah tangga dan mendidik anak-anak nya menjadi sebuah contoh yang patut disadari oleh para ayah bahwa ada seorang hamba Allah, Manusia biasa yang berhasil membangun rumah tangga dan mendidik anak-anak nya, serta menjadikan sang anak sebagai wanita yang sholehah dan sempurna. Dengan didikan (Imran) maryam menjadi wanita yang ber-keryakinan kuat, bagaimana tidak ? karena ke-taatan sang anak kepada Allah, Allah mengujinya dengan meniupkan bayi ke dalam rahim Maryam, tanpa disentuh oleh pria manapun Maryam mengandung Isa a.s. dengan kesabaran itu, keyakinan itu maryam pun teguh dan berserah diri hanya kepada Allah SWT.
FYI  (Q.s Al-Anbiya:91)
Dengan hal ini membangun rumah tangga bukanlah sebuah perkara yang mudah, apalagi bagi seorang pria, dimana kepemimpinan tertinggi dalam rumah tangga dinisbatkan kepadanya. 
Namun demikian ke-2 contoh tersebut bisa dijadikan sebagai tolak ukur bagi para suami sekaligus ayah bahwa ada 2 tauladan, yang juga manusia biasa. Berhasil mendidik keluarga dan anak nya. Tentu bukanlah sebuah perkara mudah, masalah pasti datang silih berganti. Setidaknya dengan kehidupan berumah tangga manusia jadi lebih tenang dalam meng-hadapi sebuah persoalan, karena dengan bersatunya kedua insan artinya akan ada perbedaan sudut pandang, dan itu akan memperkaya keduanya dalam memilih jalan keluar dari sebuah persoalan.
Note: tidak semua pria bisa menjadi suami, tidak semua suami bisa menjadi ayah. Maka carilah seorang pria yang bisa menjadi seorang suami dan juga ayah. Karena peran vitalnya dalam rumah tangga menjadikan ia sebagai kreator didalam rumah tangga itu sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menikah Tidak Se-Nikmat Orgasme

Indonesia Memilih